Rabu, 30 Maret 2011

FAKTOR FAKTOR -FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA SISTEM


INFORMASI
AKUNTANSI PADA BANK UMUM PEMERINTAH DI WILAYAH SURABAYA
DAN SIDOARJO
Luciana Spica Almilia, S.E., M.Si.
Irmaya Briliantien, S.E.
STIE PERBANAS SURABAYA
Jl. Nginden Semolo No. 34 – 36 Surabaya
e-mail: almilia_spica@yahoo.com atau lucy@perbanas.edu
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui faktorfaktor
yang dapat meningkatkan kinerja Sistem
Informasi Akuntansi (SIA) yang digunakan dalam
perusahaan jasa perbankan. Pengujian ini
menggunakan delapan faktor yang mempengaruhi
kinerja SIA.
Ringkasan dari hasil penelitian ini adalah:
Pertama, pengujian yang dilakukan pada faktor
keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan
sistem menunjukkan tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara keterlibatan pemakai dalam proses
pengembangan sistem dengan kinerja SIA. Kedua,
pengujian yang dilakukan pada faktor kemampuan
teknik personal menunjukkan tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara kemampuan teknik
personal dengan kinerja SIA. Ketiga, pengujian yang
dilakukan pada faktor ukuran organisasi
menunjukkan tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara ukuran organisasi dengan kinerja
SIA. Ketiga, pengujian yang dilakukan pada faktor
dukungan manajemen puncak menunjukkan terdapat
hubungan yang signifikan antara dukungan
manajemen puncak dengan kinerja SIA untuk atribut
kepuasan pemakai. Tetapi dukungan manajemen
puncak menunjukkan tidak terdapat hubungan yang
signifikan dengan kinerja SIA untuk atribut
pemakaian system.
Keempat, pengujian yang dilakukan pada
faktor formalisasi pengembangan Sistem Informasi
menunjukkan tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara formalisasi pengembangan Sistem
Informasi dengan kinerja SIA. Kelima, pengujian
yang dilakukan pada faktor ada/tidaknya program
pelatihan dan pendidikan pemakai menunjukkan
keseluruhan responden menjawab bahwa terdapat
program pelatihan di setiap perusahaan tempat
responden bekerja. Keenam, pengujian yang
dilakukan pada faktor ada/tidaknya dewan pengarah
Sistem Informasi menunjukkan keseluruhan
responden menjawab bahwa terdapat dewan pengarah
Sistem Informasi di setiap perusahaan tempat
responden bekerja. Ketujuh, pengujian yang
dilakukan dengan membandingkan kinerja sistem
informasi akuntansi atas lokasi departement sistem
informasi yang berdiri sendiri dibandingkan dengan
yang digabung dengan departement lain menunjukkan
tidak terdapat perbedaan kinerja yang signifikan.
Kata Kunci: Sistem Informasi Akuntansi, Kinerja
Sistem Informasi, Kepuasan Pemakai Sistem
Informasi, Pemakaian Sistem Informasi
1. PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi yang terjadi sekarang ini
sudah berkembang pesat dibanding waktu dulu, misalnya
yang terdapat pada bidang komunikasi. Perkembangan
pengolahan data merupakan salah satu pengaruh dari
teknologi komunikasi tersebut. Berbagai macam alat
komunikasi sekarang ini sudah banyak macamnya seperti
internet, telpon seluler, dsb.
Baik buruknya kinerja dari sebuah Sistem Informasi
Akuntansi dapat dilihat melalui kepuasan pemakai Sistem
Informasi Akuntansi dan pemakaian dari Sistem Informasi
Akuntansi itu sendiri. Soegiharto (2001) dan Tjhai Fung
Jen (2002) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa
ada beberapa faktor yang berpengaruh pada kinerja Sistem
Informasi Akuntansi, antara lain: Keterlibatan pemakai
dalam pengembangan sistem, Kemampuan teknik
personal SI, Ukuran organisasi, Dukungan manajemen
puncak, formalisasi pengembangan SI, Program pelatihan
dan pendidikan pemakai, Keberadaan dewan pengarah SI
dan Lokasi departemen SI.
Penelitian ini untuk mengetahui bukti empiris tentang
faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kinerja
Sistem Informasi Akuntansi. Dengan adanya uraian-uraian
di atas, maka mendasari penulis untuk melakukan
penelitian pada beberapa Bank Umum Pemerintah tentang
kinerja sistem informasi akuntansi.
Di dalam dunia perbankan, pelayanan merupakan hal
yang sangat penting karena mereka langsung berhadapan
dengan nasabah. Selain memerlukan informasi yang
akurat dalam pengolahan datanya, sistem informasi yang
ada pada bank juga digunakan untuk memudahkan
nasabah dalam melakukan transaksi, pengambilan uang,
pengecekan saldo dan lain-lain. Dari sistem informasi
yang digunakan, maka dapat diketahui bahwa manajemen
dari organisasi tersebut bagus atau tidak. Berdasarkan dari
latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan di
angkat dalam penelitian ini adalah: Faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi kinerja Sistem Informasi Akuntansi
(SIA) ?
2. KAJIAN TEORI
Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan
oleh Soegiharto (2001) yang bertujuan untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja SIA. Soegiharto
(2001) melakukan penelitian dengan objek perusahaanperusahaan
yang terdaftar pada ASX Data Disk atau
Australia Busiess Who’s Who Disk di Australia dengan
responden yang dipilih untuk menyampaikan persepsinya
terhadap kinerja Sistem Informasi Akuntansi yang
digunakan. Hasil penelitian Soegiharto (2001)
menunjukkan hanya faktor keterlibatan pemakai yang
secara signifikan dan positif berpengaruh terhadap
pemakaian sistem, sedangkan faktor ukuran organisasi dan
formalisasi pengembangan sistem dengan pemakaian
sistem dan faktor ukuran organisasi dengan kepuasan
pemakai sistem informasi juga berhubungan secara
signifikan tetapi hubungan tersebut berkorelasi negatif,
sedangkan faktor lainnya tidak terbukti memiliki
hubungan dengan kinerja SIA. Keberadaan dewan
pengarah juga memberikan perbedaan atas kinerja SIA
pada perusahaan yang memilikinya atau tidak.
Penelitian ini juga mengacu pada penelitian yang
dilakukan oleh Tjhai Fung Jen (2002) yang bertujuan
untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat
meningkatkan kinerja SIA. Tjhai Fung Jen (2002)
melakukan penelitian yang menguji kembali penelitian
Soegiharto (2001). Hasil penelitian Tjhai Fung Jen (2002)
menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat formalisasi
yang diterapkan perusahaan dalam proses pengembangan
sistem informasinya, kepuasan pemakai akan semakin
tinggi, tetapi pemakaian sistem akan menurun. Hasil
penelitian ini juga menunjukkan bahwa kepuasan pemakai
pada perusahaan yang departemen sistem informasinya
berada di departemen lainnya, akan lebih tinggi daripada
perusahaan yang departemen sistem informasinya terpisah
dan berdiri sendiri.
Disamping kedua penelitian diatas, penelitian sekarang
ini juga mengacu pada penelitian I Nyoman Gde Putra
Sasmita (2003) yang bertujuan untuk mencari bukti
empiris tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
SIA. Hasil penelitian I Nyoman Gde Putra Sasmita (2003)
menunjukkan bahwa dari ke delapan faktor yang
mempengaruhi kinerja SIA, terdapat enam faktor yang
mempengaruhi kinerja SIA, yaitu keterlibatan pemakai
dalam pengembangan SIA, kemampuan teknik personal
SIA, dukungan manajemen puncak, formalisasi
pengembangan sistem informasi, keberadaan dewan
pengarah sistem informasi, dan lokasi departemen sistem
informasi.
2.1 Kinerja Sistem Informasi Akuntansi
Khalil (1997) dalam Tjhai Fung Jen (2002) mengukur
efektifitas sistem informasi dengan menggunakan
kepuasan pemakai dan pemakaian sistem. Soegiharto
(2001) mengukur kinerja SIA dari sisi pemakai dengan
membagi kinerja sistem informasi akuntansi ke dalam dua
bagian yaitu kepuasan pemakai informasi dan pemakaian
sistem informasi sebagai pengganti variabel kinerja SIA.
Penelitian ini mengacu pada penelitian Choe (1996) dan
Soegiharto (2001) dalam Tjhai Fung Jen (2002).
Penelitian ini mengukur kinerja SIA dari dua pendekatan
yaitu kepuasan pemakai SIA dan pemakaian SIA itu
sendiri oleh para karyawan pada Departemen Akuntansi,
Keuangan dan Perpajakan dalam membantu
menyelesaikan pekerjaan mereka untuk mengolah datadata
keuangan menjadi informasi Akuntansi.
1. Kepuasan Pemakai Sistem Informasi Conrath dan
Mignen (1990) dalam Tjhai Fung Jen (2002)
mengatakan kepuasan pemakai sistem informasi
dapat diukur dari kepastian dalam mengembangkan
apa yang mereka perlukan. Delone dan McLean
(1992) seperti yang dikutip oleh Soegiharto (2001)
mengemukakan ketika sebuah sistem informasi
diperlukan, penggunaan sistem akan menjadi kurang
dan kesuksesan manajemen dengan sistem informasi
dapat menentukan kepuasan pemakai.
2. Pemakaian Sistem Informasi Akuntansi. Penelitian
yang dilakukan oleh Hamilton dan Chervany (1981),
Ives dan Olson (1984) dalam Tjhai Fung Jen (2002)
menunjukkan sistem informasi yang banyak
digunakan menunjukkan keberhasilan sebuah sistem
informasi manajemen. Sedangkan penelitian yang
dilakukan Jahangir et al (2000) dalam Tjhai Fung Jen
(2002) menunjukkan perbedaan penentuan
keberhasilan komputer adalah tidak berdiri sendiri
sehingga pemakaian sistem digunakan untuk
melakukan penelitian mengenai sistem informasi.
2.2 Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada
Kinerja SIA
Dari penelitian yang sudah dilakukan, faktor-faktor
yang mempengaruhi kinerja SIA adalah:
1. Keterlibatan Pemakai dalam Proses
Pengembangan Sistem. Tjhai Fung Jen (2002)
berpendapat bahwa keterlibatan pemakai yang
semakin sering akan meningkatkan kinerja SIA
dikarenakan adanya hubungan yang positif antara
keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan
sistem informasi dalam kinerja SIA.
2. Kemampuan Teknik Personal Sistem Informasi.
Tjhai Fung Jen (2002) berpendapat bahwa semakin
tinggi kemampuan teknik personal SIA akan
meningkatkan kinerja SIA dikarenakan adanya
hubungan yang positif antara kemampuan teknik
personal SIA dengan kinerja SIA.
3. Ukuran Organisasi. Tjhai Fung Jen (2002)
berpendapat bahwa semakin besar ukuran organisasi
akan meningkatkan kinerja SIA dikarenakan adanya
hubungan yang positif antara ukuran organisasi
dengan kinerja SIA.
4. Dukungan Manajemen Puncak. Tjhai Fung Jen
(2002) berpendapat bahwa semakin besar dukungan
yang diberikan manajemen puncak akan
meningkatkan kinerja SIA dikarenakan adanya
hubungan yang positif antara dukungan manajemen
puncak dalam proses pengembangan dan
pengoperasian SIA dengan kinerja SIA.
5. Formalisasi Pengembangan Sistem Informasi. Tjai
Fung Jen (2002) berpendapat bahwa semakin tinggi
tingkat formalisasi pengembangan sistem informasi di
perusahaan akan meningkatkan kinerja SIA
dikarenakan adanya hubungan yang positif antara
formalisasi pengembangan sistem dengan kinerja
SIA.
6. Program Pelatihan dan Pendidikan Pemakai. Tjhai
Fung Jen (2002) berpendapat bahwa kinerja SIA akan
lebih tinggi apabila program pelatihan dan pendidikan
pemakai diperkenalkan.
7. Keberadaan Dewan Pengarah Sistem Informasi.
Tjhai Fung Jen (2002) berpendapat bahwa kinerja
SIA akan lebih tinggi apabila terdapat dewan
pengarah.
8. Lokasi dari Departemen Sistem Informasi. Tjhai
Fung Jen (2002) berpendapat bahwa kinerja SIA akan
lebih tinggi apabila departemen sistem informasi
terpisah dan berdiri sendiri.
2.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan model penelitiannya Soegiharto (2001),
hipotesis yang dapat dikemukakan pada penelitian ini
adalah:
H1.1 : Terdapat hubungan yang positif antara keterlibatan
pemakai dalam proses pengembangan Sistem
Informasi Akuntansi dan kinerja Sistem Informasi
Akuntansi
H1.2 : Terdapat hubungan yang positif antara kemampuan
teknik personal Sistem Informasi Akuntansi dan
kinerja Sistem Informasi Akuntansi
H1.3 : Terdapat hubungan yang positif antara ukuran
organisasi dan kinerja Sistem Informasi Akuntansi.
H1.4 : Terdapat hubungan yang positif antara dukungan
manajemen puncak dalam proses pengembangan
dan pengoperasian Sistem Informasi Akuntansi dan
kinerja Sistem Informasi Akuntansi.
H1.5 : Terdapat hubungan yang positif antara formalisasi
pengembangan sistem dan kinerja Sistem Informasi
Akuntansi.
H2.1 : Kinerja Sistem Informasi Akuntansi akan lebih
tinggi dalam sebuah organisasi apabila sebuah
program pelatihan dan pendidikan pemakai
diperkenalkan dibandingkan tidak diperkenalkan.
H2.2 : Kinerja Sistem Informasi Akuntansi akan lebih
tinggi dalam sebuah organisasi apabila terdapat
sebuah dewan pengarah dibandingkan tidak
memiliki.
H2.3 : Kinerja Sistem Informasi Akuntansi akan lebih
tinggi dalam sebuah organisasi apabila departement
informasi terpisah dan berdiri sendiri dibandingkan
organisasi yang departement Sistem Informasinya
berada dibawah departement lainnya.
3. METODA PENELITIAN
Sample Penelitian ini menjadikan Bank Umum
Pemerintah yang ada di Wilayah Surabaya dan Sidoarjo
sebagai obyek penelitian, yaitu pada bank Jatim, bank
Mandiri, bank BRI, bank BNI dan bank BTN. Tetapi
karena pada Bank BNI dan Bank Mandiri tidak mendapat
ijin, maka yang dijadikan sampel adalah bank Jatim, bank
BTN dan bank BRI. Yang dijadikan obyek penelitian
merupakan Bank Umum Pemerintah yang menerapkan
Sistem Informasi Akuntansi dengan respondennya adalah
para karyawan yang menggunakan Sistem Informasi
Akuntansi. Kuesioner yang disebarkan kepada para
responden sebanyak 45 kuesioner, masing-masing bank
sebanyak 15 kuesioner. Tetapi karena pada bank tersebut
jumlah responden kurang dari 45 maka kuesioner yang
kembali hanya sebanyak 34 kuesioner. Jumlah responden
yang kembali sebanyak 34 itu berasal dari bank Jatim
sebanyak 12 responden, bank BTN sebanyak 10
responden dan bank BRI sebanyak 12 responden. Populasi
dari responden yang akan mengisi kuisioner adalah
pemakai Sistem Informasi Akuntansi pada departement
operasional, departement financial dan departement
lainnya.
Pengolahan data yang dilakukan adalah uji kualitas
data, uji kualitas data dilakukan dengan cara melakukan
uji validitas dan reabilitas data. Dalam uji validitas hanya
instrument yang terdiri dari beberapa item dan yang
diukur dengan skala ordinal. Setelah melakukan uji
kualitas data, sesuai dengan penelitiannya soegiharto
(2001) dilakukan pengujian hipotesis dengan
menggunakan Uji Pearson Product Moment dan Mann-
Whitney u Test.
Pengujian hipotesis yang pertama dengan uji pearson
product moment digunakan untuk mengetahui adanya
hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya,
dimana pengukurannya menggunakan skala likert.
Pengujian hipotesis yang kedua yaitu Mann-Whitney u
Test digunakan untuk mengetahui adanya suatu perbedaan
antara dua kondisi yang berbeda pada variabel yang sama
atau dapat digunakan untuk menguji apakah dua grup
independen berasal dari populasi yang sama.
4. HASIL PENELITIAN
Pada Bank Jatim jumlah kuesioner yang disebarkan
sebanyak 15 dan yang kembali sebanyak 12. Sedangkan
pada BTN jumlah kuesioner yang disebarkan sebanyak 15
dan yang kembali sebanyak 10. Sedangkan pada BRI
jumlah kuesioner yang disebarkan sebanyak 15 dan yang
kembali sebanyak 12.
Deskripsi responden penelitian adalah sebagai berikut:
usia responden pada penelitian ini yang < 25 tahun sebesar
0 responden atau 0 persen dan mayoritas usia responden
pada penelitian ini adalah antara usia 25-35 tahun yaitu
sebesar 29 responden atau 85,3 persen dan yang berusia >
35 tahun sebesar 5 responden atau 14,7 persen. Sedangkan
untuk pendidikan responden pada penelitian ini adalah
SLTA sebesar 0 responden atau 0 persen, Diploma sebesar
0 responden atau 0 persen, Sarjana sebesar 33 responden
atau 97,1 persen dan Pasca Sarjana sebesar 1 responden
atau 2,9 persen. Lama responden yang bekerja < 10 tahun
sebesar 26 responden atau 76,5 persen, yang telah bekerja
antara 10-25 tahun sebesar 7 responden atau 20,6 persen,
dan yang bekerja > 25 tahun sebesar 1 responden atau 2,9
persen. Sistem informasi akuntansi yang digunakan oleh
departemen tempat responden bekerja adalah Esteem yaitu
sebesar 12 responden atau 35,3 persen, sistem lainnya
yaitu SIBS sebesar 10 responden atau 29,4 persen dan
BRI-nets sebesar 12 responden atau 35,3 persen.
Untuk menguji hipotesis jenis pertama, di lakukan
dengan menggunakan Uji Korelasi Pearson. Hipotesis
jenis pertama, ada 5 macam hipotesis, yaitu untuk
mengetahui adanya hubungan antara keterlibatan pemakai
dalam pengembangan sistem informasi akuntansi,
kemampuan teknik dari personal sistem informasi
akuntansi, ukuran organisasi, dukungan manajemen
puncak dan formalisasi pengembangan sistem infromasi
dengan kinerja sistem infromasi akuntansi.
Untuk mengetahui adanya hubungan tersebut di atas,
maka dapat di lakukan uji Korelasi Pearson, sehingga
berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan
menggunakan software SPSS versi 12 didapatkan hasil
pada Lampiran 1. Berdasarkan Lampiran 1, dapat dilihat
bahwa hubungan Faktor keterlibatan pemakai terhadap
kinerja sistem informasi untuk atribut kepuasan pemakai
mempunyai nilai korelasi sebesar 0,191 dengan
signifikansi 0,279. Hasil analisis ini lebih besar dari
signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05. Sedangkan
hubungan Faktor keterlibatan pemakai terhadap kinerja
sistem informasi untuk atribut pemakaian sistem
mempunyai nilai korelasi sebesar -0,244 dengan
signifikansi 0,165. Hasil analisis ini lebih besar dari
signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05. Sedangkan
hubungan Faktor keterlibatan pemakai terhadap kinerja
sistem informasi mempunyai nilai korelasi sebesar 0,149
dengan signifikansi 0,402. Hasil analisis ini lebih besar
dari signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05. Jadi
berdasarkan hasil uji analisis di atas dapat disimpulkan
bahwa H0 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara fakor
keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem
informasi dengan kinerja sistem informasi akuntansi baik
dari segi kepuasan pemakai atau pemakaian sistem. Hasil
penelitian ini terjadi karena pemakai sistem informasi
kurang dilibatkan dalam pemakaian sistem itu sendiri
sehingga pemakai tidak merasa puas.
Hubungan Kemampuan Teknik Personal Sistem
informasi terhadap kinerja sistem informasi untuk atribut
kepuasan pemakai mempunyai nilai korelasi sebesar 0,167
dengan signifikansi 0,345. Hasil analisis ini lebih besar
dari signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05. Sedangkan
hubungan Kemampuan Teknik Personal Sistem informasi
terhadap kinerja sistem informasi untuk atribut pemakaian
sistem mempunyai nilai korelasi sebesar 0,280 dengan
signifikansi 0,108. Hasil analisis ini lebih besar dari
signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05. Sedangkan
hubungan Kemampuan Teknik Personal Sistem informasi
terhadap kinerja sistem informasi mempunyai nilai
korelasi sebesar 0,196 dengan signifikansi 0,266. Hasil
analisis ini lebih besar dari signifikan yang ditetapkan
yaitu 0,05. Jadi berdasarkan hasil pengujian analisis
diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa H0 diterima. Hal
ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara Kemampuan Teknik Personal Sistem
informasi dengan kinerja sistem informasi akuntansi baik
dari segi kepuasan pemakai atau pemakaian sistem. Hal
ini disebabkan karena dengan adanya Kemampuan Teknik
Personal Sistem Informasi yang terbatas akan
mengakibatkan pemakaian sistem kurang sehingga
pemakai tidak merasa puas dengan sistem yang ada.
Hubungan Ukuran Organisasi terhadap kinerja sistem
informasi untuk atribut kepuasan pemakai mempunyai
nilai korelasi sebesar 0,167 dengan signifikansi 0,345,
Hasil analisis ini lebih besar dari signifikan yang
ditetapkan yaitu 0,05. Sedangkan hubungan Faktor
Ukuran Organisasi terhadap kinerja sistem informasi
untuk atribut pemakaian sistem mempunyai nilai korelasi
sebesar 0,280 dengan signifikansi 0,108. Hasil analisis ini
lebih besar dari signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05.
Sedangkan Hubungan Ukuran Organisasi terhadap kinerja
sistem informasi mempunyai nilai korelasi sebesar 0,196
dengan signifikansi 0,266. Hasil analisis ini lebih besar
dari signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05. Jadi
berdasarkan hasil uji analisis di atas dapat disimpulkan
bahwa H0 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara fakor Ukuran
Organisasi dengan kinerja sistem informasi akuntansi baik
dari segi kepuasan pemakai dan pemakaian sistem. Hal
tersebut disebabkan dalam menilai kinerja sistem
informasi tidak berdasarkan pada ukuran suatu organisasi.
Hubungan Dukungan Manajemen Puncak terhadap
kinerja sistem informasi untuk atribut kepuasan pemakai
mempunyai nilai korelasi sebesar 0,556 dengan
signifikansi 0,001. Hasil analisis ini lebih kecil dari
signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05. Sedangkan
hubungan Dukungan Manajemen Puncak terhadap kinerja
sistem informasi untuk atribut pemakaian sistem
mempunyai nilai korelasi sebesar 0,185 dengan
signifikansi 0,295. Hasil analisis ini lebih besar dari
signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05. Sedangkan
Hubungan Dukungan Manajemen Puncak terhadap kinerja
sistem informasi mempunyai nilai korelasi sebesar 0,552
dengan signifikansi 0,001. Hasil analisis ini lebih kecil
dari signifikan yang ditetapkan yaitu 0,05. Jadi
berdasarkan hasil pengujian analisis diatas, dapat diambil
kesimpulan bahwa H0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa
Dukungan manajemen puncak memiliki hubungan yang
positif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi tetapi
hanya pada atribut kepuasan pemakai, sedangkan atribut
pemakaian sistem tidak. Hasil penelitian ini terjadi karena
adanya Dukungan manajemen puncak yang tinggi
mengakibatkan pemakai merasa puas tetapi pemakaian
sistem belum maksimal. Dari penelitian ini dapat dilihat
bahwa adanya Dukungan manajemen puncak yang tinggi
akan mengakibatkan kinerja sistem informasi akan lebih
tinggi jika ditinjau dari Kepuasan Pemakai yang lebih
intensif tetapi pemakaian sistem kurang.
Hubungan faktor Formalisasi Pengembangan Sistem
Informasi terhadap kinerja sistem informasi untuk atribut
kepuasan pemakai mempunyai nilai korelasi sebesar -0,
079 dengan signifikansi 0,658. Hasil analisis ini lebih
besar dari signifikan yang ditetapkan yang ditetapkan
yaitu 0,05. Sedangkan hubungan Formalisasi
Pengembangan Sistem Informasi terhadap kinerja sistem
informasi untuk atribut pemakaian sistem mempunyai
nilai korelasi sebesar -0,252 dengan signifikansi 0,150.
Hasil analisis ini lebih besar dari signifikan yang
ditetapkan yang ditetapkan yaitu 0,05. Sedangkan
keseluruhan responden menjawab bahwa terdapat program
pelatihan dan pendidikan di tempat responden bekerja dan
terdapat dewan pengarah sistem informasi di tempat
responden bekerja.
Pada kondisi pengujian yang membandingkan kinerja
sistem informasi akuntansi atas lokasi departement sistem
informasi yang berdiri sendiri dibandingkan dengan yang
digabung dengan departement lain yang menghasilkan
nilai rata-rata ranking group untuk lokasi departement
sistem informasi yang berdiri sendiri yang mempengaruhi
kepuasan pemakai adalah 16,48 dan nilai rata-rata ranking
grup dari lokasi departement sistem informasi yang
digabung dengan departement lain sebesar 19,95
sedangkan nilai rata-rata ranking group untuk lokasi
departement sistem informasi yang berdiri sendiri yang
mempengaruhi pemakaian sistem adalah 16,10 dan nilai
rata-rata ranking grup dari lokasi departement sistem
informasi yang digabung dengan departement lain sebesar
20,85. Dimana semakin besar nilai rata-rata nilai ranking
group menunjukkan semakin baik kondisi yang
diwakilkannya. Besarnya z hitung adalah -0,931 dengan
tingkat signifikansi sebesar 0,352 untuk kepuasan pemakai
dan z hitung sebesar -1,319 dengan signifikansi sebesar
0,187 untuk pemakaian sistem. Sedangkan nilai rata-rata
ranking group untuk lokasi departement sistem informasi
yang berdiri sendiri yang mempengaruhi kinerja SIA
adalah 16,06 dan nilai rata-rata ranking grup dari lokasi
departement sistem informasi yang digabung dengan
departement lain sebesar 20,95. Dimana semakin besar
nilai rata-rata nilai ranking group menunjukkan semakin
baik kondisi yang diwakilkannya. Besarnya z hitung
adalah -1,310 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,190
untuk kinerja SIA. Dari hasil uji analisis diatas dapat
diambil kesimpulan bahwa H0 diterima. Berdasarkan hasil
penelitian ini, menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan kinerja yang signifikan antara lokasi
departement sistem informasi yang berdiri sendiri dengan
lokasi departement sistem informasi yang di gabung
dengan departement lain baik itu untuk variabel kepuasan
pemakai dan pemakaian sistem. Hal ini ditunjukkan
dengan melihat nilai signifikansi sebesar 0,190 yang lebih
besar dari 0,05.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar